Elegi

Aku meratap

Pada besar harap

Di balkon gelap

Hanya ada elegi

Sore menuju malam

Dan aksara hampir mati

Di ingatan kelam

Tentang cemasmu

Yang masih meledak

Tanpa menengokku

Yang mulai terisak

Advertisements

Sedu

Kulihat sore menangisi resahnya di hadapan langit yang penuh awan-awan kemelut. Berarak pelan menahan semburat jingga menuju hatimu. Pekat. Gelap. Sinar matamu berlalu. Digantikan derai dari pelupuk sampai dagu

Pertanyaan

Malam menghening di sela-sela ingatan tentangmu yang samar-samar hadir menjelma puisi kesedihan. Kulihat sepasang mata mulai menumpahkan satu persatu partikel rindu ke ruang hampa. Menggenangi lengang hati yang lama kering menanti entah siapa. Di pojokan kupeluk tubuh sendiri. Sambil bertanya sampai kapan kesunyian mendiami hati

Sepertiga Malam

Sudah kutanggalkan resah atas sunyi yang menggebu di sepanjang malam. Cukup sudah beradu dengan penat-penat hidup yang tak perlu. Rindu-rinduku. Sajak-sajak tentangmu. Harap-harap cemasku. Seketika luruh dalam sujud sepertiga malamku. Mengalir bersama doa-doa panjang ke hilirnya semesta. Diiringi nyanyian tujuh ayat paling merdu di langit dan bumi. Saat itu juga pelupuk pecah. Airmata tumpah. “Sudah seberapa jauh kau dariNya ?”, tanyaku terisak.

Himpunan Semesta

Aku menyusuri aksara-aksara mati di malam biru nan pekat yang jauh dari ramai. Hanya ada hening yang kian hari bergeming keras di batok kepala. Menelusup jauh ke dasar tanah kemudian tumbuh sebagai sajak-sajak kesepian yang menyirami dirinya dengan bulir-bulir bening penuh duka. Tinggalah ranting-ranting kurus yang bertahan pada ketidak-mungkinan berbalasnya harap. Dan nasib rindu-rindu yang menguning kini mati berguguran diinjak realita

Pukul Tiga Sore

* Tepat pukul tiga sore

Kita membuka percakapan

Tentang bentang langit

Awan-awan yang berarak

Dan jejak-jejak sajak

* Tepat pukul tiga sore

Kita ada dalam keramaian

Menengadah langit

Seolah ada suatu bahan

Agar sedikit lama kita berbincang

* Tepat pukul tiga sore

Kau selangkah dari sisi

Tertawa manis sekali

Oh Gusti

Jangan buat aku jatuh hati lagi

Rasa Sunyi

Aku menyelami puisi-puisi lamaku

Penuh sepi

Penuh rindu

Penuh haru

Yang tersisa di dasar hanya kesunyian

Tanpamu

Tanpanya

Siapapun

Sunyi yang sungguh sunyi

Merekah di setiap malam

Membawa aroma kesedihan

Yang menusuk mata dan jiwa

Bisukan semua kata

Menggoda bulir bening untuk tumpah