Kabar Kopi

Apa kabar hari ini?

Masih menyeduh kopi?

Katakan padaku apa yang lebih pahit

Espresso? Robusta? Arabika?

Ataukah sebuah kenyataan tentang

harap yang kerap dipatahkan?

(01:03 WITA; sedang tidak bisa tidur dan sedang rindu)

Advertisements

Perjalanan Rindu

Aku merindukan sebuah perjalanan singkat. Juga jaket abu-abu yang memelukmu dari debu yang merampas penglihatanmu, dari dingin yang merasuk tulangmu, barisan lampu jalan yang rela menerangi malam yang terlampau pekat, bintang-bintang yang melawan awan mendung, helm yang sesekali bertabrakan, perintah jangan tidur darimu, dan segala percakapan tidak berarti kita yang mengantarmu kini pada keheningan cukup panjang.

(23:55 WITA ; aku cuma rindu)

Mati (r)asa

Ada lebih banyak “kenapa” yang berputar-putar di kepala sejak hilangnya dirimu. Sejak matinya kabarmu. Sejak mejikuhibiniu berubah abu-abu.

Dari dulu aku selalu dihadapkan dengan manusia yang tak tahu fungsi mulut. Seolah diam adalah bahasa terbaik dan hilang adalah jalan paling tepat.

Lalu kata-kata sudah tak punya arti lagi. Menyapa kini tak penting. Senyum perlahan pudar. Kita kembali menjadi asing.

Tapi ketika suatu sore nanti kudapati jawaban, dan jarak telah patah oleh kata-kata, kupastikan si rapuh ini telah mati rasa.

Memburai

Tak ada malam yang kulewati tanpa memikirkanmu. Rindu yang mengalir dalam darah berkecamuk liar bersama kenangan-kenangan cukup manis. Mereka naik ke kepala hingga pecah dan terburai segala rasa yang menyiksa.

Apakah kamu juga pernah sebegini tersiksanya?

Pulang

Aku menyusuri jalanan ibu kota. Tersendat-sendat namun pasti. Kulihat orang-orang dengan cemas di keningnya. Berharap sampai rumah dengan sekantong rindu yang utuh dan pelukan yang penuh