Kau tahu, pada detik ini aku benar-benar sekarat, tapi saat kulihat sungging di bibirmu, setelah ini aku yakin, aku akan mati dengan tenang

Aku. Akan. Mati. Dengan. Tenang.

Hujan Jam 5 Sore

Sore tadi tangis mengguyur deras
Memecah hening ruangan
Membuang semua angan
Menikam hati dalam-dalam
Jalanan basah
Kaca kendaraan pecah
Petrichor menusuk tajam
Bola mata ingin keluar
Bibir bergetar
Air mata penuh darah
Aliri pipi, dagu, bahu
Jantung berhenti berpacu
Tangan dan kaki kaku
Puisi patah hati melagu
Aku mati menunggu cintamu

Jadi, bagaimana?

Bagaimana aku bisa lupa?
Jika di setiap hujan yang membumi
Kau menjelma petrichor yang merusak pikiran
Mendekatkan kembali rasa yang hampir jauh
Mengundang kesakitan yang terpendam
Mengikhlas pada hal yang tak pernah dimiliki
Adalah sebenar-benarnya kesulitan
Sungguh, aku tak membenci pilihanmu
Aku hanya benci rasa ini
Itu saja
Tapi, bagaimana aku bisa lupa? 
Jika di setiap hujan yang membumi
Kau menjelma petrichor yang merusak pikiran

Ketika Perempuan Patah Hati

Ketika perempuan patah hati
Pagi adalah sisa kopi semalam
Hanya tinggal ampas yang mengendap di dasar cangkir
Menimbun luka-luka

Ketika perempuan patah hati
Siang adalah gugur daun-daun jati
Tak ada waktu terus-terusan melangit
Tak ada waktu menyalahi takdir

Ketika perempuan patah hati
Malam adalah sunyi suara
Desau angin yang tertahan
Dan bulan yang terisak pelan

Menemui Senja

Langit menjingga
Ombak menderu-deru
Angin mengembus pelan
Matahari hampir habis ditelan bumi
Dan aku masih saja berdiri memaku
Sudah lama rasanya tidak menyatu dengan senja
Membagi cerita-cerita kesepian
Mengadu tentang patahnya harapan
Pun cinta tak terbalaskan
Aku rasa kesedihan senang berlama-lama di mataku
Ia mencipta kaca-kaca di dalamnya
Langit menghitam
Matahari hilang
Kaca-kaca di mataku pecah
Berubah menjadi derai airmata

Sajak Patah 3

Seperti biasa, aku tidak bisa tidur. Rinai hujan di luar seolah mewakilkan hatiku. Semerbak bau tanah menusuk ke dalam sukma. Membuat bayangmu lebih tak ingin lepas dari kepala.

Berapa jam yang lalu aku menulis perihal siapakah yang sudah membuat hatimu jatuh. Setelahnya seseorang mengadu padaku. Kali ini aku tak ingin meragukan firasatku.

Ah.. Kenapa patah hati begitu cepat menyerang? Tiba-tiba semua kembali biru. Pilu. Haru. Aku harus kembali pada kesunyian. Membuang semua harapan pada ruang kekecewaan.

Di sudut kamar aku berbaring. Ditemani remang lampu dan kipas angin. Tiba-tiba air mata jatuh satu-satu. Bulir beningnya menyesakkan jiwa. Membasahi sajakku yang penuh luka.

Sendu Melagu

Malam minggu bertandang
Kau entah sedang apa
Mengejar hatinyakah?
Atau berdiam di rumah?
Sepertiku yang tak bosan menatap langit-langit kamar
Seolah ribuan kata berkumpul di sana
Membantuku mengeja aksara demi aksara
Dalam kesunyian malam minggu yang kujaga
Aku sibuk menerka-nerka
Perihal perempuan siapa yang sudah membuatmu jatuh cinta